Terimakasih telah berkunjung ke forum Kediri. Untuk masuk sebagai member silahkan daftar dulu dengan memasukkan email dan password( dikolom bawah ini).
Pendaftaran ini tanpa konfirmasi email, kami hargai waktu anda.

Jika anda sebagai member silahkan LOGIN.



 
IndeksPencarianFAQPendaftaranLogin
Latest topics
WAH SUDAH LAKU 50rb/2bulan call: 085649003001 murah GAN
Photobucket

LAPTOP, CCTV, DVR & KOMPUTER

laptop, komputer,Instalasi CCTV,hardisk, LCD led, Sparepart komptr..hub. 085649003001



TANAH + BANGUNAN

JUAL CEPAT , Balowerti II/42b KDR ,cocok untuk Rumah tinggal /gudang/parkir luas SHM L=415m2, Hub.: Bu IS 085856800900


PASANG IKLAN 50RB; 2 BULAN TAMPIL DISINI..BIAR "WAH SUDAH LAKU "


Photobucket




Share | 
 

 HOT spot gratis perlu pemasaran..

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
wahyu



Posting : 58
Location : lombok
Points : 2910
Reputasi : 7
Join date: : 14.01.09

PostSubyek: HOT spot gratis perlu pemasaran..   Thu 29 Jan 2009, 11:44 pm

Judul tulisan di detiknet Jumat lalu sangat menggelitik. Bayangkan, dalam kurun enam bulan Telkom berhasil memasang hot spot
atau jaringan internet nirkabel ini di 38 alun-alun di kota dan
kabupaten serta di 300 titik kota Surabaya yang tersebar di mal,
sekolah dan tempat-tempat umum. Sebuah usaha yang layak diacungi
jempol. Namun, hasil evaluasinya dianggap mengecewakan.
Mengapa? Communication Manager Telkom Jawa Timur Djadi Soegiarto
mengatakan dari pertengahan hingga akhir tahun 2007, peningkatan
penetrasi internet di Jawa Timur tidak sampai 1 persen.
“Peningkatannya tidak signifikan, padahal gratis,” ujarnya.
Lho? Benarkah penyediaan infrastruktur otomatis meningkatkan
pemakain internet? Mestinya dua hal yang berbeda. Penyediaan
infrastruktur di satu sisi, semestinya diukur dengan aksesabilitas dan
kemampuan teknis lainnya dari peralatan yang dipasang.
Untuk meningkatkan pengguna internet, bukan cuma dengan menyediakan
infrastruktur, tapi lebih pada mensosialisasikan manfaat penggunaan
internet serta tutorial mengakses internet.
Mencermati ikhwal hot spot ini saya jadi ingat pernyataan
Menteri Komunikasi dan Informatika beberapa saat lalu. ”Semua alun-alun
di 38 kabupaten/kota telah terpasang, kita hanya menunggu pemanfaatan
oleh masyarakat, jika nanti banyak yang memanfaatkan, maka kami minta
pihak Telkom memperluas jaringannya,” ujar Menteri Komunikasi dan
Informasi Muhammad Nuh pada 20 Desember 2007, seperti dikutip sejumlah
media.
Dia menjelaskan, dari 73 ribu desa di Indonesia, yang belum
tersambung jaringan mencapai 38 ribu desa. Target nasional pada
2008-2009 semua kabupaten/kota di Indonesia akan terpasang hot spot dan tersambung jaringan internet.
Mungkin saja masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa program
internet alun alun kurang berhasil, karena baru berjalan sekitar satu
bulan. Dan seperti disampaikan oleh Telkom, bahwa sosialisasi
pemanfaatan internet ini sendiri masih kurang.
Indikasi awal ini tentu menarik dikaji, apalagi bila ke depan Telkom
maupun provider internet lainnya, serta pemerintah ingin
menginternetkan masyarakat Indonesia, seperti yang telah dicanangkan di
atas.

PERAN MARKETING
Internet, termasuk hot spot, tak beda jauh dengan consumer product,
memerlukan konsep pemasaran yang tepat ketika mau dibawa masuk ke
pasar. Diawali dengan penetapan strategi STP (Segmentation, Targeting
dan Positioning) yang kemudian diterjemahkan dalam 5P (Product, Price,
Promotion, Place, Packaging) nya sebagai taktiknya.
Pemasangan sambungan internet nirkabeldi alun-alun ini, menurut
Menkominfo adalah merupakan, “Langkah awal untuk membawa masyakarat
Indonesia menuju masyarakat informasi.”
Sebuah cita-cita yang baik, hanya memang perlu diterjemahkan dalam
tahapan-tahapan yang sesuai dengan sasaran masyarakat yang bakal
dituju. Agar pada akhirnya tujuan mulia itu bisa tercapai. Karena
memang agak susah jika sasarannya langsung dibuat massal: menjangkau
semua lapisan pasar. Apalagi yang ingin diperkenalkan adalah produk
yang bermuatan teknologi tinggi, bukan sekedar mengajar masyarakat
untuk mencuci tangan, seperti yang diajarkan sebuah produsen sabun.
Saya sempat berbincang dengan sejumlah kawan di Surabaya yang merupakan sasaran “pasar” hot spot gratis tersebut.
Dari sisi P pertama, produk, sambungan internet yang dipasang di alun-alun kurang mampu mengakomodir need pengguna internet karena koneksinya lambat, berkisar 20 Kbps.
Dari sisi P kedua, place atau tempat. “Siapa yang mau bawa laptop
dan akses internet di alun-alun. Rasanya ya ndak nyaman (dari panas
serta hujan) dan ndak aman,” kata Herry SW, pengamat dan praktisi
bidang ICT di Jawa Timur ini. Apalagi, alun-alun Taman Bungkul
Surabaya, kabarnya dikenal sebagai tempat yang tidak aman.
Alun-alun selama ini memang dikenal sebagai meeting point
masyarakat (tradisional). Lalu, apakah masyarakat tradisional yang
notebene biasa memanfaatkan alun-alun antara lain untuk mencari makanan
klangenan, yang menjadi target pengguna hotspot. Mereka yang diharapkan
menenteng laptop atau gadget lainnya ke alun-alun dan mengarungi Internet?
Pemilihan P/place yang merupakan tempat pertemuan masyarakat
sebenarnya sudah benar. Namun, ketika kita bicara memasarkan produk
ICT, tentu perlu dicari P atau area pertemuan yang lebih sesuai dengan
karakter produk, tempat orang bertemu-berkumpul, aman dan syukur-syukur
juga nyaman.
Seperti di Singapore, misalnya. Hot spot dibangun dan
diberikan secara gratis untuk pengguna di titik-titik di mana
masyarakat bertemu dan berinteraksi secara digital, seperti di cafe,
tempat-tempat clubbing, apartemen, hotel, dan sejumlah stasiun MRT yang kategori interchange seperti Cityhall, Changi, dan lainya.
Kemudian P yang lain, promotion. Dalam konteks ini sejauh mana
promosi/sosialisasi dan edukasi yang sudah dilakukan atas fasilitas ICT
yang sudah dipasang ini. Dari apa itu jaringan internet tanpa kabel,
bagaimana memanfaatkannya, peralatan apa yang diperlukan
untukmengaksesnya, gratis atau berbayar, sampai dimana saja hotspot
tersebut di pasang. Karena, layanan gratis pun belum tentu diminati
masyarakat, apabila memang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat
yang dituju.

MENJUAL INTERNET SEBAGAI ALAT INFORMASI
Sungguh ideal memang jika nantinya segala lapisan masyarakat di
Indonesia bisa memanfaatkan internet tanpa kabel untuk pelbagai
kepentingan: ekonomi, pendidikan, sosial, dan lainnya. Dari aspek
segmen –- jika kita bicara negara Indonesia -– ini sangat variatif baik
secara demografi maupun psikografi. Dari golongan atas, menengah dan
bawah. Dari golongan yang sangat mampu, sedang-sedang saja, atau yang
masih berpikir besok harus makan apa.
Menjual internet untuk tujuan seperti ini memang perlu dilakukan
tahapan. Jika menggunakan istilah marketing, dipilih segmen dan target
yang paling memungkinkan (dan hasilnya maksimal). Dalam konteks, segmen
ini tidak saja dibidik untuk menjadi pengguna, tapi nantinya mereka
bisa menjadi influencer untuk masuk ke segmen dan target yang lainnya.
Misalnya, internet sebagai produk jasa yang diharapkan mampu
meningkatkan perekonomian rakyat pedesaan. Atau internet sebagai sarana
interaksi sosial, dimana masyarakat bisa secara cepat memperoleh info
tentang bahaya endemi flu burung, demam berdarah, bahaya AIDS, narkoba,
dan sebagainya.
Jika STP sudah ditetapkan, semisal internet untuk peningkatan
ekonomi masyarakat menengah bawah atau UKM. Maka fasilitas hotspot atau
akses internet gratis bisa ditempatkan di titik-titik dimana segmen
tersebut bertemu berinteraksi, atau beraktifitas termasuk mencari
informasi. Selanjutnya, bagaimana mentransformasi aktifitas tradisional
menjadi berbasis digital. Disinilah peran promosi dan sosialisasi
diperlukan.
Masalahnya sekarang sudahkah Segmentation (S) Targeting (T) dan
Positioning (P) dari ’produk’ hotspot tersebut didefinisikan secara
tepat? Upaya sosialisasi apa yang telah dilakukan untuk memberitahukan
kepada publik (sasaran pasar) tentang keberadaan dan manfaat produk
tersebut? Kalau mau lebih sempurna bisa saja ditambah dengan riset
seberapa banyak pemilik laptop dan gadget di wilayah itu yang sudah
memakai fasilitas wi-fi atau hot spot ready.

JUST copas Vlisa.com
Kembali Ke Atas Go down
 
HOT spot gratis perlu pemasaran..
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» apa perlu gw ganti oli??
» TIPS TELP GRATIS BUAT HANDPHONE,,TERBUKTI NYATA BRO!!!
» 10th Anniversary Tabloid Pulsa "Bagi-Bagi 10 Gadget Gratis and Many More"
» [ask] service gratis kelewat batas satu minggu
» ASK : Ganti filter replacement perlu setting ulang atau tidak??

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: kediri's Cafe :: OOT ( Out off Topic ) :: BEbas & Umum-
Navigasi: