Terimakasih telah berkunjung ke forum Kediri. Untuk masuk sebagai member silahkan daftar dulu dengan memasukkan email dan password( dikolom bawah ini).
Pendaftaran ini tanpa konfirmasi email, kami hargai waktu anda.

Jika anda sebagai member silahkan LOGIN.



 
IndeksPencarianFAQPendaftaranLogin
Latest topics
WAH SUDAH LAKU 50rb/2bulan call: 085649003001 murah GAN
Photobucket

LAPTOP, CCTV, DVR & KOMPUTER

laptop, komputer,Instalasi CCTV,hardisk, LCD led, Sparepart komptr..hub. 085649003001



TANAH + BANGUNAN

JUAL CEPAT , Balowerti II/42b KDR ,cocok untuk Rumah tinggal /gudang/parkir luas SHM L=415m2, Hub.: Bu IS 085856800900


PASANG IKLAN 50RB; 2 BULAN TAMPIL DISINI..BIAR "WAH SUDAH LAKU "


Photobucket




Share | 
 

 aku kembali

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Indah



Posting : 78
Location : kediri
Points : 3291
Reputasi : 6
Join date: : 10.02.09

PostSubyek: aku kembali   Mon 25 May 2009, 6:36 pm

Kembali ke Pangkuan-Nya tanpa Beban





indah tyas

PAGI itu aku berjalan santai di sekitar rumahku. Udara
pagi yang begitu segar ditambah nyanyian merdu para burung seakan
menambah semangat diriku. Suasana di daerah itu memang nyaman.
Jalan-jalan dipayungi pohon-pohon yang tumbuh lebat. Entah mengapa,
tubuhku sangat ringan hari ini. Membuatku benar-benar menikmati
perjalanan.

Ah, alangkah indahnya hidup ini! Kuhirup dalam-dalam
udara pagi yang segar sampai puas. Kurentangkan kedua tanganku, ingin
terbang saja rasanya. Sungguh tak ada satu pun beban yang kurasakan
hari ini. Aku hanya mengumbar senyum paling lebar untuk menunjukkan
indahnya dunia.

"Pagi, Nek!" sapaku pada Nek Retno.

"Indah? Wah, ceria sekali kamu hari ini, Nak!"

"He he he! Hidup kan cuman sekali Nek, jadi harus dinikmati dong!"

Nenek
hanya tertawa kecil. Kugandeng tangannya untuk membantunya menyeberang
jalan. Jalan memang tidak terlalu ramai, tapi Nek Retno adalah seorang
yang buta dan sebatang kara. Kecelakaan 50 tahun silam membuatnya buta
dan kehilangan suami. Dia selalu menungguku dengan setia. Dia sudah
kuanggap seperti nenekku sendiri.

"Makasih ya, Nak!" katanya sembari menepuk tanganku yang memegang tangannya sesampainya di seberang.

"Sama-sama, Nek!" balasku. Aku pun meninggalkannya.

Dari
kejauhan aku bisa melihat masih banyak orang di halte. Ini menandakan
bahwa bus yang dikemudikan Mas Djiman belum datang. Sesampainya di
halte, aku berdiri menghadap jalan, menunggu bus sembari tersenyum.
Tiba-tiba senyumku langsung pudar, kurogoh kantong tasku,
dan...

"Dompetku!!!" teriakku, kupikir aku akan mengejutkan orang sehalte.

Tapi,
tak satu pun di antara mereka yang memperhatikanku. Bahkan, melihat ke
arahku saja tidak. Tidak ada sepuluh menit yang lalu, aku berbicara
dalam hati tentang kematian rasa kepedulian mereka. Ternyata, aku
mengalaminya lagi.

"Mu.. mungkin ketinggalan di kamar!" kataku
panik sembari tetap meraba-raba tubuhku berusaha meyakinkan diri bahwa
dompetku benar-benar tidak ada padaku. Aku bergegas lari kembali ke
rumah.

Kulewati lagi Nek Retno, mungkin dia menyadari bahwa aku
kembali. Nek Retno memang hebat. Kendati buta, dia seperti punya indra
keenam. Namun, aku sudah tak ada waktu untuk menyapanya lagi. Dia hanya
tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala. Kuperlebar langkah
kakiku, berusaha semakin cepat sampai di rumah. Tampaknya, rencana tiba
ke kantor dengan penampilan terbaik pun akan gagal hari ini. Keringat
sudah mengucur terlalu deras.

Kulewati kampungku, sebuah bendera
putih dengan palang merah dipasang di tembok sebelum masuk kampung. Aku
belum melihatnya tadi pagi, siapa yang mati hari ini? Ah sudahlah, aku
juga sudah tak ada waktu untuk terlalu peduli. Lagi pula, ingin rasanya
berhenti jadi orang baik. Ibu-ibu belum selesai bergosip rupanya,
mengenakan pakaian berkabung pun masih bisa bergosip seperti itu. Malah
semakin ramai saja.

Aduh padat sekali kampung ini dengan
manusia, masuk saja sepertinya susah, kupanjat tangga supaya aku bisa
langsung naik ke kamarku di loteng. Yah!!! Kupegang dompetku erat-erat.

"Akhirnya, kutemukan kamu, sayang!" sembari kuciumi dompet kulit itu.

Aku
keluar kamar, kuturuni loteng untuk menuju ruang tamu. Susah juga naik
tangga setelah sekian lama berhenti melakukannya. Tampaknya, tubuhku pun
mulai menua. Tapi, tunggu sebentar! Ada apa ini?! Mengapa ramai sekali
ruang tamu ini?! Ibu?! Kenapa Ibu menangis tersedu?! Aku bergegas
menuruni tangga. Kugapai Ibuku.

''Ibu, ada apa ini?!" kataku panik.

Ibu
tak menjawabku, dia terus-menerus menangis. Kakak kemudian membuka kain
batik yang menutupi mayat itu. Astaga!!!! Itu aku!!!! Aku telah
meninggal?! Kepalaku tiba-tiba sakit sekali, kuremas rambutku. Apa yang
telah terjadi?!! Aku langsung terduduk di samping ibuku. Kupejamkan
mataku. Aku mengingatnya!!! Aku mengingatnya!!! Aku mengingatnya!!!
Kataku berulang-ulang sembari menitikkan air mata. Bukankah semalam
sebuah mobil yang melaju kencang menabrakku ketika baru pulang kerja.

Aku
terduduk di pinggir pantai. Kupandangi mentari yang segera kembali ke
peraduannya. Sentuhan hangat mentari di tubuhku oleh cahayanya kuterima
dengan senyum mengembang di wajahku. Ternyata, aku sudah menyelesaikan
semuanya dengan baik. Aku sudah lakukan dan jalani kehidupanku dengan
sebaik-baiknya. Tidak kusangka seorang buta seperti Nek Retno
benar-benar peka terhadapku, kendati telah tak bernyawa. Aku juga baru
menyadari kenapa tidak ada yang memperhatikan kepanikanku di halte. Aku
tersenyum dengan perasaan tenang dan bahagia.

Cahaya mentari
itu semakin terang dan semakin terang. "Aku kembali!" kataku. Tubuhku
mulai terangkat perlahan. Nyaman sekali rasanya. Seperti sedang berada
dalam buaian hangatnya kasih. Aku pulang dengan tanpa beban. Tanpa
beban!
Kembali Ke Atas Go down
 
aku kembali
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: KEDIRI Hobby :: KARYA WONG KEDIRI-
Navigasi: