Terimakasih telah berkunjung ke forum Kediri. Untuk masuk sebagai member silahkan daftar dulu dengan memasukkan email dan password( dikolom bawah ini).
Pendaftaran ini tanpa konfirmasi email, kami hargai waktu anda.

Jika anda sebagai member silahkan LOGIN.



 
IndeksPencarianFAQPendaftaranLogin
Latest topics
WAH SUDAH LAKU 50rb/2bulan call: 085649003001 murah GAN
Photobucket

LAPTOP, CCTV, DVR & KOMPUTER

laptop, komputer,Instalasi CCTV,hardisk, LCD led, Sparepart komptr..hub. 085649003001



TANAH + BANGUNAN

JUAL CEPAT , Balowerti II/42b KDR ,cocok untuk Rumah tinggal /gudang/parkir luas SHM L=415m2, Hub.: Bu IS 085856800900


PASANG IKLAN 50RB; 2 BULAN TAMPIL DISINI..BIAR "WAH SUDAH LAKU "


Photobucket




Share | 
 

 hidup sebagai tikar

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Indah



Posting : 78
Location : kediri
Points : 2946
Reputasi : 6
Join date: : 10.02.09

PostSubyek: hidup sebagai tikar   Fri 13 Mar 2009, 5:16 pm

Hidup Sebagai Sebuah Tikar






Aku
adalah sebuah tikar. Ya... lebih tepatnya tikar anyaman bambu yang
sudah tua dan usang. Aku tinggal di sebuah keluarga sederhana, keluarga
Pak Asep. 16 tahun... 16 tahun lamanya aku mengarungi suka duka bersama
keluarga Pak Asep. Boleh dikata aku ini sudah mengerti baik buruk, suka
duka keluarga Pak Asep sampai mendarah daging.

Pak Asep bekerja
sebagai petani, sedangkan istrinya menjadi tukang pijat di kampungnya
yang dikenal dengan sebutan Mbok Darmi. Pijatan Mbok Darmi enak betul.
Tangannya yang kuat dan mantap membuat banyak pelanggannya berdatangan.


Aku pun dengan senang hati membantu Mbok Darmi menjadi alas
bagi pelanggan-pelanggannya, walau terkadang kebanyakan pelanggan Mbok
Darmi adalah orang-orang yang baunya menyengat dan dengan dekil yang
masih menempel, tapi aku rela karena gara-gara aku, mereka terkadang
keenakan bahkan sampai tertidur mendengkur dan mengeluarkan tetesan
hujan membentuk pulau-pulau kecil dan mulutnya.

Para pelanggan
Mbok Darmi tidak merasa kedinginan dan merasa empuk karena mereka tidak
tertidur langsung beralas tanah dan semen. Ya... memang rumah Mbok
Darmi hanya beralas semen. Mbok Darmi mempunyai 6 anak. Aku nggak
pernah mengerti mengapa Mbok Darmi senang mengumpulkan anak dengan
keadaan ekonomi yang sempit.

Padahal, sebagian anak-anaknya
sudah besar semua. Seharusnya sekarang Pak Asep sudah enak menikmati
kehidupan tuanya. Keluarga Pak Asep senang memberi nama anak-anak
mereka dengan peristiwa yang terjadi saat anak-anak mereka lahir supaya
memudahkan mengingat kelahiran anak-anak mereka yang banyak.

Anak
ke-l sampai 3 bernama Ratna, Roma, dan Evie. Kebetulan, waktu itu
zamannya lagi ngetren film Ratna dan Galih serta penyanyi andalan si
Mbok, yaitu Bang Haji Rhoma Irama dan Evie Tamala. Aku masih ingat,
kalau TV sudah menayangkan bintang favorit Pak Asep dan Mbok Darmi,
wah... langsung mata dan pantat mereka tidak berkutit sedikit pun
dariku.

Aku sih senang-senang aja. Dengan begini, berarti aku
sudah berguna. Ratna, Roma, dan Evie sudah menikah dan tinggal di desa
kampung lain, ikut keluarga masing-masing. Pada saat anak-anak mereka
menikah atau khitan, aku pun selalu menjadi alas tambahan bagi
tamu-tamu keluarga Pak Asep.

Terkadang ada tamu anak-anak
kecil yang mencabuti tubuhku hingga rontok berbiji-biji. Aku pun
kesakitan, tetapi aku tak mampu mengerang dan berteriak. Namun, saat
aku melihat tawa senyum para tamu yang dapat duduk santai dengan hangat
dan empuk sambil menikmati kacang goreng dan pisang goreng, sirna sudah
sakitku. Aku puas berkorban dan berguna bagi mereka.

Anak ke-4
dan ke-5 mereka kebetulan kembar bernama Inul dan Dewi, duduk di bangku
kelas 1 SD. Ternyata di zaman modern sekarang ini mereka juga
memfavoritkan bintang yang populer dan ngetren. Mereka juga fans berat
Inul dan Dewi Persik. Anak ke-6 bernama Megawati masih bayi berusia 7
bulan, waktu itu lagi ngetren sang Ibu Presiden kita dengan simbol
moncong putihnya.

Semua anak Pak Asep kebetulan dilahirkan
dengan bantuan bidan dan beralas aku. Sekarang Mbok Darmi sedang
mengandung anak ke-7 dan sebentar lagi mau melahirkan. Aku tak tahu
sampai kapan Mbok Darmi berhenti melahirkan. Mungkin Mbok Darmi mau
membuat kampung sendiri dengan warganya, ya... anak-anaknya sendiri.

Dengar-dengar
semalam waktu Pak Asep dan Mbok Darmi lagi ngobrol dengan duduk di
badanku, mereka mengatakan, jika anaknya lahir, akan diberi nama Cinta,
tapi kalau laki-laki diberi nama Cipta. Sekarang kan lagi zaman ngomong
ala Cinta Laura. Ya. .itung-itung sebagai modal, siapa tahu rezeki
jabang bayi besok besar kawin sama bule atau kecipratan ngomong Inggris
atau jadi kepala TKI sukses. Hehe... aneh benar Pak Asep pikirku. Tapi,
maju juga pikirannya.

Aku paling senang kalau Mbok Darmi
menidurkan anaknya di atasku. Bau bedak bayi dan minyak telonnya
membuat aku tarnbah segar, pikiranku lebih fresh. Tapi, itu pun
terkadang hanya sesekali dilakukan Mbok Darmi. Boro-horo beli minyak
telon dan bedak, beli minyak tanah aja susahnya minta ampun.

Aku
pun rela badanku ditiduri sebagai alas tidur 4 orang yang saling
berdesakan. Bapak terpaksa tidur di luar, di amben depan pintu.
Sernentara Mbok Darmi, Inul, Dewi, dan Megawati tidur berdesakan dan
saling berpeluk-pelukan karena minimnya selimut. Terkadang bau kentut,
ompolan si kecil, tetesan air liur terjatuh tepat di badanku. Si kecil
juga sering buang air besar di atasku.

Lengkap sudah bau
tubuhku. Tapi, aku sangat senang dan rela karena masih berguna bagi
keluarga Pak Asep. Mereka menjadi merasa empuk, tidak kedinginan, dan
tidak kotor karena tanah dan semen. Semakin lama bambuku semakin
menjuat keluar.

Tetapi, Pak Asep senantiasa menjahit aku,
menganyam aku menjadi rapi. Bauku juga semakin beraroma, tetapi Pak
Asep masih saja setia menjemurku agar tidak lapuk. Aku sudah tidak kuat
lagi. Lubang karena tikus, injakan kaki ayam terus merusak tubuhku.
Serabut anyaman bambuku semakin menipis, mereka saling memisah-misahkan
diri.

Warnaku semakin luntur menjadi pucat seakan-akan orang yang habis jatuh dari gedung lt 4 (wajah shock
berat, pucat). Tapi, aku harus menjadi alat penopang ekonomi Mbok
Darmi, harus menjadi penghangat pantat-pantat dan tubuh keluarga Pak
Asep, aku harus kuat.

Sampai suatu hari... aku tak kuasa
menahan lembaran tubuhku yang semakin ringkih karena dimakan usia. Aku
pun lemah, berkutu, dan lapuk. Aku tak tahan... Aku ingin berteriak....

Akhirnya
pada suatu hari, aku melihat Pak Asep pulang dengan membawa sebuah
teman bagiku. Ya. . . .sebuah tikar baru yang cantik berwarna hijau
kemerah-merahan. Warna segar dengan bahan yang kuat. Pak Asep
memperolehnya dri tetangga sebelah yang baru pulang dari kota.

Akhirnya,
aku bisa istirahat dan lega mendapat penggantinya. Aku senang dan
bangga dengan diriku sendiri ini. Tidak banyak tikar yang mengalami
kisah seperti aku. Ya. .itulah aku, sebuah pahlawan tikar
Kembali Ke Atas Go down
UPICK



Posting : 48
Location : bone-makassar
Points : 2933
Reputasi : 5
Join date: : 11.01.09

PostSubyek: Re: hidup sebagai tikar   Fri 13 Mar 2009, 10:34 pm

Indah wrote:
Hidup Sebagai Sebuah Tikar






Aku
adalah sebuah tikar. Ya... lebih tepatnya tikar anyaman bambu yang
sudah tua dan usang. Aku tinggal di sebuah keluarga sederhana, keluarga
Pak Asep. 16 tahun... 16 tahun lamanya aku mengarungi suka duka bersama
keluarga Pak Asep. Boleh dikata aku ini sudah mengerti baik buruk, suka
duka keluarga Pak Asep sampai mendarah daging.

Pak Asep bekerja
sebagai petani, sedangkan istrinya menjadi tukang pijat di kampungnya
yang dikenal dengan sebutan Mbok Darmi. Pijatan Mbok Darmi enak betul.
Tangannya yang kuat dan mantap membuat banyak pelanggannya berdatangan.


Aku pun dengan senang hati membantu Mbok Darmi menjadi alas
bagi pelanggan-pelanggannya, walau terkadang kebanyakan pelanggan Mbok
Darmi adalah orang-orang yang baunya menyengat dan dengan dekil yang
masih menempel, tapi aku rela karena gara-gara aku, mereka terkadang
keenakan bahkan sampai tertidur mendengkur dan mengeluarkan tetesan
hujan membentuk pulau-pulau kecil dan mulutnya.

Para pelanggan
Mbok Darmi tidak merasa kedinginan dan merasa empuk karena mereka tidak
tertidur langsung beralas tanah dan semen. Ya... memang rumah Mbok
Darmi hanya beralas semen. Mbok Darmi mempunyai 6 anak. Aku nggak
pernah mengerti mengapa Mbok Darmi senang mengumpulkan anak dengan
keadaan ekonomi yang sempit.

Padahal, sebagian anak-anaknya
sudah besar semua. Seharusnya sekarang Pak Asep sudah enak menikmati
kehidupan tuanya. Keluarga Pak Asep senang memberi nama anak-anak
mereka dengan peristiwa yang terjadi saat anak-anak mereka lahir supaya
memudahkan mengingat kelahiran anak-anak mereka yang banyak.

Anak
ke-l sampai 3 bernama Ratna, Roma, dan Evie. Kebetulan, waktu itu
zamannya lagi ngetren film Ratna dan Galih serta penyanyi andalan si
Mbok, yaitu Bang Haji Rhoma Irama dan Evie Tamala. Aku masih ingat,
kalau TV sudah menayangkan bintang favorit Pak Asep dan Mbok Darmi,
wah... langsung mata dan pantat mereka tidak berkutit sedikit pun
dariku.

Aku sih senang-senang aja. Dengan begini, berarti aku
sudah berguna. Ratna, Roma, dan Evie sudah menikah dan tinggal di desa
kampung lain, ikut keluarga masing-masing. Pada saat anak-anak mereka
menikah atau khitan, aku pun selalu menjadi alas tambahan bagi
tamu-tamu keluarga Pak Asep.

Terkadang ada tamu anak-anak
kecil yang mencabuti tubuhku hingga rontok berbiji-biji. Aku pun
kesakitan, tetapi aku tak mampu mengerang dan berteriak. Namun, saat
aku melihat tawa senyum para tamu yang dapat duduk santai dengan hangat
dan empuk sambil menikmati kacang goreng dan pisang goreng, sirna sudah
sakitku. Aku puas berkorban dan berguna bagi mereka.

Anak ke-4
dan ke-5 mereka kebetulan kembar bernama Inul dan Dewi, duduk di bangku
kelas 1 SD. Ternyata di zaman modern sekarang ini mereka juga
memfavoritkan bintang yang populer dan ngetren. Mereka juga fans berat
Inul dan Dewi Persik. Anak ke-6 bernama Megawati masih bayi berusia 7
bulan, waktu itu lagi ngetren sang Ibu Presiden kita dengan simbol
moncong putihnya.

Semua anak Pak Asep kebetulan dilahirkan
dengan bantuan bidan dan beralas aku. Sekarang Mbok Darmi sedang
mengandung anak ke-7 dan sebentar lagi mau melahirkan. Aku tak tahu
sampai kapan Mbok Darmi berhenti melahirkan. Mungkin Mbok Darmi mau
membuat kampung sendiri dengan warganya, ya... anak-anaknya sendiri.

Dengar-dengar
semalam waktu Pak Asep dan Mbok Darmi lagi ngobrol dengan duduk di
badanku, mereka mengatakan, jika anaknya lahir, akan diberi nama Cinta,
tapi kalau laki-laki diberi nama Cipta. Sekarang kan lagi zaman ngomong
ala Cinta Laura. Ya. .itung-itung sebagai modal, siapa tahu rezeki
jabang bayi besok besar kawin sama bule atau kecipratan ngomong Inggris
atau jadi kepala TKI sukses. Hehe... aneh benar Pak Asep pikirku. Tapi,
maju juga pikirannya.

Aku paling senang kalau Mbok Darmi
menidurkan anaknya di atasku. Bau bedak bayi dan minyak telonnya
membuat aku tarnbah segar, pikiranku lebih fresh. Tapi, itu pun
terkadang hanya sesekali dilakukan Mbok Darmi. Boro-horo beli minyak
telon dan bedak, beli minyak tanah aja susahnya minta ampun.

Aku
pun rela badanku ditiduri sebagai alas tidur 4 orang yang saling
berdesakan. Bapak terpaksa tidur di luar, di amben depan pintu.
Sernentara Mbok Darmi, Inul, Dewi, dan Megawati tidur berdesakan dan
saling berpeluk-pelukan karena minimnya selimut. Terkadang bau kentut,
ompolan si kecil, tetesan air liur terjatuh tepat di badanku. Si kecil
juga sering buang air besar di atasku.

Lengkap sudah bau
tubuhku. Tapi, aku sangat senang dan rela karena masih berguna bagi
keluarga Pak Asep. Mereka menjadi merasa empuk, tidak kedinginan, dan
tidak kotor karena tanah dan semen. Semakin lama bambuku semakin
menjuat keluar.

Tetapi, Pak Asep senantiasa menjahit aku,
menganyam aku menjadi rapi. Bauku juga semakin beraroma, tetapi Pak
Asep masih saja setia menjemurku agar tidak lapuk. Aku sudah tidak kuat
lagi. Lubang karena tikus, injakan kaki ayam terus merusak tubuhku.
Serabut anyaman bambuku semakin menipis, mereka saling memisah-misahkan
diri.

Warnaku semakin luntur menjadi pucat seakan-akan orang yang habis jatuh dari gedung lt 4 (wajah shock
berat, pucat). Tapi, aku harus menjadi alat penopang ekonomi Mbok
Darmi, harus menjadi penghangat pantat-pantat dan tubuh keluarga Pak
Asep, aku harus kuat.

Sampai suatu hari... aku tak kuasa
menahan lembaran tubuhku yang semakin ringkih karena dimakan usia. Aku
pun lemah, berkutu, dan lapuk. Aku tak tahan... Aku ingin berteriak....

Akhirnya
pada suatu hari, aku melihat Pak Asep pulang dengan membawa sebuah
teman bagiku. Ya. . . .sebuah tikar baru yang cantik berwarna hijau
kemerah-merahan. Warna segar dengan bahan yang kuat. Pak Asep
memperolehnya dri tetangga sebelah yang baru pulang dari kota.

Akhirnya,
aku bisa istirahat dan lega mendapat penggantinya. Aku senang dan
bangga dengan diriku sendiri ini. Tidak banyak tikar yang mengalami
kisah seperti aku. Ya. .itulah aku, sebuah pahlawan tikar

Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup
cubaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi
manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu positif terhadap kehidupan.
Yang memimpin wanita bukan akalnya, melainkan hatinya.

_________________
Wanita yang cantik tanpa peribadi yang mulia ,umpama kaca mata yang bersinar-sinar, tetapi tidak melihat apa-apa.

Kembali Ke Atas Go down
 
hidup sebagai tikar
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» MESIN SUSAH HIDUP
» Help! Mesin Suka Mati-Mati Dan Susah Hidup Kembali
» ask lampu indikator radiator tiba2 hidup..
» (ASK) Motor ga dipake, susah hidup..
» Help! Ninin di starter kagak mau hidup

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: kediri's Cafe :: OOT ( Out off Topic ) :: BEbas & Umum-
Navigasi: