Terimakasih telah berkunjung ke forum Kediri. Untuk masuk sebagai member silahkan daftar dulu dengan memasukkan email dan password( dikolom bawah ini).
Pendaftaran ini tanpa konfirmasi email, kami hargai waktu anda.

Jika anda sebagai member silahkan LOGIN.



 
IndeksPencarianFAQPendaftaranLogin
Latest topics
WAH SUDAH LAKU 50rb/2bulan call: 085649003001 murah GAN
Photobucket

LAPTOP, CCTV, DVR & KOMPUTER

laptop, komputer,Instalasi CCTV,hardisk, LCD led, Sparepart komptr..hub. 085649003001



TANAH + BANGUNAN

JUAL CEPAT , Balowerti II/42b KDR ,cocok untuk Rumah tinggal /gudang/parkir luas SHM L=415m2, Hub.: Bu IS 085856800900


PASANG IKLAN 50RB; 2 BULAN TAMPIL DISINI..BIAR "WAH SUDAH LAKU "


Photobucket




Share | 
 

 menciptakan orang pintar

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Indah



Posting : 78
Location : kediri
Points : 2941
Reputasi : 6
Join date: : 10.02.09

PostSubyek: menciptakan orang pintar   Sat 28 Feb 2009, 4:06 pm

Hal yang sangat naif, ketika seorang anak menjadi bodoh, nakal, pemberang,
atau bermasalah, lalu orang tua menyalahkan guru, pergaulan di sekolah,
dan lingkungan yang tidak beres. Tiga faktor itu hanya berperan dalam
proses perkembangan anak, sedangkan bakat anak itu menjadi bodoh,
nakal, atau pemberang justru terletak dari bagaimana orang tua
memberikan awal kehidupan si anak tersebut.
Bukan hal aneh bahwa seorang anak dapat dididik dan dirangsang
kecerdasannya sejak masih dalam kandungan. Malah, sejak masih janin,
orang tua dapat melihat perkembangan kecerdasan anaknya. Untuk bisa
seperti itu, orang tua harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain
terpenuhinya kebutuhan biomedis, kasih sayang, dan stimulasi. Hal ini
diungkap dokter spesialis anak, dr Sudjatmiko, MD SpA.

Bicara tentang kecerdasan, tentu saja tidak bisa lepas dari masalah
kualitas otak, sedangkan kualitas otak itu dipengaruhi oleh sejumlah
faktor. Secara prinsip, menurut Sudjatmiko, perkembangan positif
kecerdasan sejak dalam kandungan itu bisa terjadi dengan memperhatikan
banyak hal. Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa
nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil,
gizinya harus cukup. Artinya, asupan protein, karbohidrat, dan
mineralnya terpenuhi dengan baik.
Selain itu, seorang ibu hamil tidak menderita penyakit yang akan
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya.
Kebutuhan nutrisi itu sendiri, sebenarnya bukan hanya ketika ibu
mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus
memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap,
sehingga ketika ia hamil, dari segi fisik sudah siap dan proses
kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.
Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada
umumnya–boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan
kehamilan. Malah, kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang
mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah
yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak-anak yang lahir
kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam
segala hal untuk memelihara anaknya.
Faktor kedua adalah kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus
menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar
dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan
optimal. “Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari
kehamilannya,” kata mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Anak
Indonesia itu. “Risiko itu, misalnya, seorang wanita karier yang hamil,
merasa terbebani dan khawatir akan mengganggu pekerjaannya. Ia
sebenarnya ingin hamil, tapi juga merasa terganggu dengan kehamilannya
itu. Kondisi seperti ini tidak kondusif untuk merangsang perkembangan
bayi dalam kandungannya,” tambahnya.
Selain itu, menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
ini, ada faktor psikologis yang memengaruhi perkembangan kecerdasan
bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari.
Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitmen antara istri
dan suami. Tanpa komitmen di antara keduanya, kehamilan itu bisa
dianggap mengganggu.
Juga harus ada support (dukungan). Tanpa support, walaupun ada
komitmen dari suami dan orang tua dapat mengurangi perkembangan dan
rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. “Jadi, variabel kasih
sayang tadi adalah komitmen dengan suami, serta support dari orang tua
dan keluarga, sehingga seorang ibu dapat menerima kehamilannya dengan
hati tenteram,” lanjut Sudjatmiko.
Faktor ketiga adalah adanya perhatian penuh dari si ibu hamil
terhadap kandungannya. Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan
secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional
akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya
akan melepaskan neo transmitter zat-zat rasa senang, sehingga bayi
dalam kandungannya juga akan merasa senang.
Sebaliknya, bila si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah,
dan stres, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung
rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan
terstimuli juga ikut gelisah. “Yang paling baik adalah stimuli berupa
suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan
merangsang bayi untuk ikut senang. Berbeda jika si ibu melakukan
hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan
rangsangan negatif pada bayi,” ujar Sudjatmiko.
Tapi, stimuli itu sendiri lebih efektif bila kehamilan sudah
menginjak usia di atas enam bulan. Sebab, pada usia tersebut jaringan
struktur otak pada bayi sudah mulai bisa berfungsi.
Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang ibu hamil harus
tetap menjaga nutrisi yang didapat dari makanan sehari-hari. Bahkan,
perlu diimunisasi, misalnya dengan suntik TT. Lakukan juga konsultasi
rutin dengan dokter secara berkala. Mula-mula sekali sebulan, dan pada
bulan terakhir menjelang kelahiran (partus), diperketat menjadi tiga
minggu sekali, lalu dua minggu sekali, dan bahkan mendekati partus
menjadi setiap minggu.
Sudjatmiko juga menyarankan untuk tidak meminum obat-obatan yang
katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi.
Obat-obatan semacam itu hanya omong kosong. “Pemberian obat semacam itu
percuma saja, dan tidak berpengaruh apa-apa,” katanya. “Yang penting,
ciptakan saja lingkungan mendidik, yaitu tiga faktor tadi.
Sementara itu, psikolog anak Dra Surastuti Nurdadi juga
mengungkapkan pendapat yang sama. Stimulasi positif, menurutnya, memang
dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari
stimulasi ini, diharapkan ketika anak tumbuh, bukan hanya menjadi
cerdas, melainkan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. “Stimulasi
menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak.
Bahkan, lanjut Surastuti, bayi masih dalam kandungan bisa distimuli
dengan diperdengarkan musik klasik, diajak berbicara, dan diberikan
elusan penuh kasih sayang. Orang tua juga harus siap dan berusaha
mengajarkan cara anaknya bersosialisasi dengan dunia luar ketika ia
masih di dalam rahim.
Tapi, mengapa musik klasik? Pendapat semacam ini memang terus
menjadi topik bahasan. Musikus hebat seperti Adhi MS, pimpinan Twilite
Orchestra, juga meyakini musik klasik dapat merangsang kecerdasan bayi
sejak dalam kandungan. Bahkan, untuk jenis musik yang ‘merangsang bayi’
ini sudah banyak dijual di toko-toko kaset tertentu.
Tapi, untuk lebih tuntasnya kupasan mengenai hal itu, coba kita
simak penuturan Surastuti yang juga dosen di Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia ini. Musik klasik, katanya, memiliki berbagai
macam harmoni yang terdiri dari nada-nada. Nada-nada inilah yang
memberikan stimulasi berupa gelombang alfa. Gelombang ini memberikan
ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman, sehingga anak dapat lebih
berkonsentrasi.
“Menurut beberapa penelitian, musik klasik memang termasuk metode
yang tepat. Anak menjadi siap menerima sesuatu yang baru dari
lingkungannya,” ujar pengasuh rubrik konsultasi di Klinik Anakku ini.
Tapi, jangan coba-coba memperdengarkan musik-musik keras kepada bayi
dalam kandungan. Konon, justru menyebabkan timbulnya kebingungan pada
si jabang bayi!
Kembali Ke Atas Go down
 
menciptakan orang pintar
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Gimana caranya jdi orang yg serius??
» [Tantangan] Hanya 5% orang yg bisa melakukan ini "bagaimana dgn detektif?"
» [wts] Tutup Pentil Pintar u/ Motor & Mobil
» orang yang ga suka sama kita sampe ngerusak ninin kita gimana?
» VARIASI ORANG KENTUT, KAMU YG MANA ? =))

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: KEDIRi Serba-serbi :: Kesehatan dan pola hidup-
Navigasi: